1. Anamnesa
- Pasien dengan CCS biasanya datang dengan keluhan berupa kelemahan pada ekstremitas atas dan bawah disertai hilangnya kemampuan sensoris dalam derajat yang bervariasi di bawah level injuri.
- Pasien juga biasanya akan mengeluhkan hilangnya sensasi nyeri dan temperatur, sensasi sentuhan ringan dan kehilangan kemampuan untuk mengetahui posisi tubuh (proprioseptif) di bawah level injuri.
- Dapat timbul keluhan nyeri pada leher dan kesulitan BAK
- Gejala CCS biasanya didahului oleh riwayat trauma di daerah leher, paling sering akibat terjatuh.
2. Pemeriksaan Fisik
- Penemuan dari pemeriksaan fisik biasanya terbatas pada kelainan pada sistem neurologis, yang terdiri atas gabungan lesi pada upper motor neuron dan lower motor neuron yang mensuplai ekstremitas atas yang mengakibatkan paralisis flaksid parsial, dan lesi yang lebih dominan padaupper motor neuron yang mensuplai ekstremitas bawah yang mengakibatkan paralisis spastik.
- Kelainan pada ekstremitas atas biasanya akan lebih parah daripada kelainan pada ekstremitas bawah, dan terutama terjadi pada otot-otot tangan bagian distal.
- Kehilangan kemampuan sensori hingga derajat tertentu, meskipun sensasi sakral biasanya masih utuh. Kemampuan kontraksi anus dan tonus sfingter serta refleks babinsky harus diperiksa.
- Refleks regang otot biasanya hilang pada awalnya tapi dapat kembali muncul namun disertai oleh spatisitas otot yang bersangkutan.
3. Pemeriksaan Penunjang
- Pemerksaan Laboratorium
Tidak ada tes laboratorium spesifik yang diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa CCS
- Pemeriksaan Radiologi
- X-ray cervical spine; menunjukkan gambaran fraktur maupun dislokasi dan derajat spondilitik pada korpus vertebrae cervikal. Foto pada posisi leher ekstensi dan fleksi dapat membantu mengevaluasi stabilitas ligamentum flavum.
- CT Scan pada cervical spine; menunjukkan adanya gangguan pada kanalis spinalis dan dapat memberikan informasi mengenai deajat penekanan yang terjadi pada medula spinalis.
- MRI; dapat menunjukkan secara langsung tekanan/jepitan pada medula spinalis oleh tulang, vertebral disc atau hematoma.
Pasien CCS sebaiknya diberikan imobilisasi leher untuk mencegah penekanan/injuri medula spinalis lebih lanjut. Selain itu pengobatan, pembedahan dan rehabilitasi juga dapat dilakukan sesuai indikasi.
1. Medikamentosa
Obat yang diberikan pada pasien CCS adalah golongan kortikosteroid, yaitu methylprednisolone (Medrol, Solu-medrol).
- Mekanisme Kerja: Methylprednisolone menurunkan respon inflamasi dengan menekan migrasi polymorphonuclear leukocytes dan menghambat peningkatan permeabilitas vaskular.
- Dosis: 30mg/kgBB IV dalam 15 menit pertama diikuti dalam 45 menit berikutnya dengan dosis 5,4 mg/kgBB/jam selama 23 jam
- Kontraindikasi: Orang dengan hipersensitivitas, infeksi fungal, viral maupun micobacterium.
- Interaksi: (1) bila diberikan bersama-sama dengan digoxin dapat meningkatkan toksisitas digitalis sekunder akibat hipokalemia, (2) Estrogen dapat meningkatkan level obat, (3) phenobarbital, phenytoin dan rifampin dapat menurunkan level obat, (4) jika diberikan bersamaan dengan diuretik, pasien harus dimonitor untuk hypokalemia.
- Efek samping: Hiperglikemia, demam, osteonekrosis, ulkus peptikum, hipokalemia, euphoria, osteoporosis, psikosis, gangguan pertumbuhan, myopati, infeksi
2. Bedah
Pembedahan jarang dibutuhkan karena prognosis pasien dengan medikamentosa biasanya baik. Indikasi pembedahan meliputi:
- Jika masih terdapat kelemahan motorik yang signifikan setelah suatu periode perbaikan
- Jika penekanan/kompresi pada medula spinalis menetap
- Jika terdapat instabilitas spinal
- Jika kelainan neurologis semakin parah
Pasien dengan kompresi sekunder dari herniasi diskus akibat trauma harus segera didekompresi. Pasien yang mengalami CCS akibat osteophyte, penebalan/ruptur ligamentum flavum ataupun stenosis tidak memerlukan operasi segera dan ditunggu hingga keadaan pasien membaik.
3. Rehabilitasi
1. Terapi fisik
Tujuan dari terapi fisik adalah pemulihan Range of Motion (ROM) dan meningkatkan kemampuan mobilitas. Hal terpenting adalah untuk memperkuat otot ekstremitas atas yang masih bisa diperbaiki, demikian juga dengan keseimbangan dan stabilitas tubuh. Karena kelemahan ekstremitas atas lebih parah daripada ekstremitas bawah, maka pasien akan mengalami kesulitan dalam menggunakan alat bantu berjalan yang membutuhkan bantuan tangan..
2. Rehabilitasi kerja (Occupational Therapy)
Karena kelemahan ekstermitas atas lebih dominan pada CCS, perbaikan kemampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, memperkuat ekstremitas atas dan perbaikan ROM adalah tujuan utama rehabilitasi kerja. Aplint/bidai seringkali digunakan untuk mempertahankan posisi fungsional tangan dan mencegah kontraktur jari-jari tangan.
3. Terapi bicara
Khususnya diberikan pada pasien yang mengalami disfagia akibat pemakaian alat-alat untuk mempertahankan stabilitas servikal atau akibat fusi spina servikalis anterior. Pasien harus diajarkan cara menelan agar tidak memperparah disfagia dan mencegah aspirasi
4. Penanganan pada Kasus Khusus
1. Autonomic Dysreflexia
- Merupakan kelainan haemoatsasis yang disebabkan kelainan saraf otonom
- Input sensori dari distensi kandung kemih atau stimulus noksius dapat menstimulus aktivitas simpathetik yang sistemik, mengakibatkan vasokonstriksi dan hipertensi
- Penanganan yang tepat terhadap agen-agen noksius pada kulit, kandung kemih maupun saluran cerna dapat mencegah rekurensi. Sumber-sumber nosiseptif harus dicari dan ditangani.
- Jika tidak terjadi perbaikan, lakukan pengobatan untuk menurunkan tekanan darah
- Nifedepine dan Nitrogliserin transdermal adalah obat yang sering digunakan.
2. Neurogenic Bladder
- Pasien yang mengalami gejala CCS akibat injuri akut sering kali mengalami retensi urin sehingga memerlukan pemasangan Kateter Foley untuk drainase
- Jika cairan penderita sudah stabil, kateter dapat dilepas dan dilanjutkan dengan pemberian latihan pengendalian kandung kemih dan jika diperlukan dapat dipasang kateter secara intermiten.
- Fungsi kandung kemih biasanya dapat kembali dalam waktu 6 bulan
- Jika fungsi kandung kemih tidak kembali setelah 6 bulan, ajari pasien untuk memasang kateter sendiri saat rangsangan berkemih datang
3. Spastisitas
- Pada awalnya, pasien akan mengalami penurunan tonus, namun setelah periode spinal syok mereda, pasien justru dapat mengalami spstisitas pada ekstremitas atas maupun bawah
- Perawatan yang tepat dapat meminimalisasi impuls nosiseptif maupun eksteroseptif yang dapat memperparah hipertonia
- Posisi tidur yang benar dan program peregangan dapat menurunkan spastisitas dan mencegah kontraktur
- Dapat dilakukan percobaan pemberian antispasme jika spasme otot sudah mengakibatkan rasa tidak nyaman pada pasien
- Obat pilihan pertama yang diberikan adalah Lioresal
4. Nyeri Neuropati
- Pasien dengan CCS dapat mengalami allidynia di bawah level injuri
- Penanganan pertama adalah dengan mengevaluasi dan menghilangkan faktor-faktor pencetus seperti infeksi atau pressure ulcer
- Dapat ditambahkan pemberian obat antikonvulsi
5. Pressure Ulcer
- Penurunan fungsi sensoris dapat mengakibatkan pembentukanpressure ulcer karena tekanan-tekanan pada kulit tidak disadari oleh penderita
- Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan meminimalisasi penekanan pada kulit pasien, misalnya dengan menggunakan kasur khusus atau melapisi kusi roda dengan bantal di daerah-daerah penonjolan tulang
- Perubahan posisi secara teratur dapat menurunkan tekanan kontinyu pada bagian-bagian tertentu
- Penanganan pertama adalah dengan menghilangkan semua sumber penekanan. Jika ulkus semakin parah, konsulkan ke bagian bedah plastik jika diperlukan
6. Neurogenic Bowel
- Akibat penurunan kemampuan kontrol untuk BAB, berikan latihan pengontrolan BAB secara teratur, termasuk pemberian cairan dan serat yang cukup untuk menghindari konstipasi atau inkontinensia
- Lakukan evakuasi feses misalnya dengan stimulasi melalui colok dubur atau metode lain
5. Follow Up
- Masukkan pasien ke ICU bedah saraf untuk monitor status neurologis
- Monitor tekanan darah sangat penting karena pasien biasanya dibuat hipertensi ringan untuk meningkatkan aliran darah ke medula spinalis dalam 12-24 jam pertama
- Berikan profilaksis untuk deep vein thrombosis (DVT) dengan low molecular weightheparin
- TPN biasanya diperlukan karena terjadi gangguan peristaltik usus
- Pasang kateter Foley jika terjadi retensi urin
- Berikan perhatian khusus pada perawatan kulit